Tampilkan postingan dengan label habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label habaib. Tampilkan semua postingan

Tabligh Akbar Bersama Al Habib Umar bin Hafidz

Bandung,  4 Januari 2011

Ribuan umat muslim di Jawa Barat hadir di Masjid Raya Bandung kemarin Senin, 3 Januari 2011. Kedatangan mereka untuk mengikuti kegiatan Doa Bersama dan Tabligh Akbar Internasional bersama Al Habib Umar bin Hafidz. Kegiatan ini dipandegani oleh Majelis Taklim As Syifa wal Mahmudiyyah Sumedang pimpinan KH. Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi. Nampak hadir laki-laki, perempuan, orang tua maupun anak-anak, yang didominasi dengan baju yang serba putih.

Tabligh dimulai setelah sholat Maghrib hingga sekitar pukul 10 malam. Diawali dengan membaca sholawat Nariyah secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang ustadz dari Majelis Ta'lim tersebut lalu dilanjutkan sholat Isya berjamaah. Seusai sholat Isya acara dilanjutkan dengan membaca sholawat dan Maulid Ad Dhiyaul Lami' yang merupakan kitab maulid gubahan guru mulia, Al Habib Umar. Pembacaan Maulid ini dipimpin oleh Habib Ahmad bin Novel yang hadir lebih dahulu bersama beberapa habib dan para kyai. Sementara kakak beliau Habib Jindan bin Novel datang bersama sang Guru, Habib Umar beserta rombongan para habib dari hadramaut Yaman. Dalam acara ini Habib Jindan di daulat sebagai penerjemah tausiyah Habib Umar yang menggunakan Bahasa Arab.

Setelah maulid selesai dan dibacakan doa oleh Habib Umar, acara dilanjutkan dengan muqoddimah atau sambutan oleh pimpinan majelis ta'lim As Syifa wal Mahmudiyah yaitu KH. Muhyidin Abdul Qodir Al Manafi. Dalam sambutannya, Kyai Muhyidin mendoakan Habib Umar agar senantiasa diberikan panjang umur, sehat wal afiyat sehingga bisa berkumpul bersama-sama kembali. Kyai Muhyidin juga menyampaikan bahwa kedatangan Habib Umar merupakan cahaya keberkahan bagi kaum muslimin terutama yang hadir pada malam itu dan bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu beliau menghimbau kepada para jamaah agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya dengan mengambil barokah ilmu yang akan disampaikan oleh habib Umar bin Hafidz.

Setelah sambutan berakhir, tibalah saat yang dinantikan oleh para hadirin yakni Mauidhoh Hasanah atau tausiyah oleh Habib Umar bin Hafidz. Jamaah yang hadir nampak khusuk mendengarkan ceramah beliau. Beberapa jamaah menggunakan handphone untuk mengabadikan gambar guru mulia dengan memfotonya. Ada juga yang memakai handicam untuk merekam ceramah beliau.
Dalam tausiyahnya, Habib Umar menyampaikan diantaranya tentang makna Islam. Beliau mengingatkan bahwa makna Islam yang sebenarnya bukanlah dilihat dari pribadi nabi yang sesuai dengan akal pemikiran semata para Nabi dan Rasul terdahulu dari Nabi Adam sampai Sayyidina Muhammad SAW. Bukan buah pemikiran manusia yang sewaktu-waktu akan terungkap kekeliruannya. Bukan demikian. Makna keislaman yang sebenarnya adalah apa yang disampaikan oleh Nabi dan Rasul terdahulu yang datang dari cahaya wahyu Allah SWT dengan kebenaran sepenuhnya, dengan akalnya, tubuhnya dan hatinya. Dengan demikian kita akan tunduk kepada Allah SWT dan hanya Allah SWT yang patut kita sembah karena Dialah “majikan” kita yang sebenarnya. Umat Islam terdahulu, para Nabi, Ulama dari zaman dahulu hingga sekarang tetap tersambung cahaya keilmuannya. Akal seseorang bisa diterima jika sesuai dengan cahaya wahyu dari Allah SWT, bukan sebaliknya. Beliau mencotohkan seandainya agama Islam itu berdasarkan akal, maka ketika seseorang berwudhu akan mengusap telapak kaki bagian bawahnya saja,  bagian atasnya tidak karena yang kotor adalah bagian bawah telapak kaki. Maka hendaklah kaum muslimin waspada terhadap orang islam atau orang yang mengaku Islam yang mengambil dan memaknai Islam dari luarnya saja atau kulitnya saja.

Habib Umar bercerita, ketika Sayyidina Hasan cucu Rasulullah SAW sakaratul maut beliau menangis. Maka ditanya, kenapa engkau menangis wahai Hasan? Maka Sayyidina Hasan menjawab. “ Aku menangis bukan karena takut atau sakit akan kematian ini, aku menangis karena aku khawatir akan dibawa ke suatu tempat dimana aku tidak bisa berkumpul dengan kakekku, ayahku dan ibundaku”. Padahal beliau sayyidina Hasan adalah orang yang paling deket dengan Rasulullah SAW baik dhohir maupun bathin. Anas bin Malik bercerita, suatu hari aku masuk ke rumah Fatimah binti Rasulullah SAW . Maka datang sayyidina Husain kepada Rasulullah dan berkata: “Beri aku minum wahai kakekku”. Saat itu sayyidina Ali sedang tidur di pojok, diruangannya. Maka Rasulullah memerah susu kambing yang ada di pekarangan. Datang sayyidina Hasan kepada Rasulullah minta susu tersebut akan tetapi dipinggirkan oleh beliau, dan  beliau mendahulukan Sayyidina Husain. Melihat itu Sayyidatina Fatimah berkata kepada Rasulullah, “Engkau lebih mencintai Husain daripada Hasan?”. Rasulullah menjawab, “Tidak wahai Fatimah, akan tetapi dia (Husain) dulu yang meminta kepadaku maka aku beri dia lebih dahulu. Kemudian Rasulullah menoleh kepada Sayyidina Anas dan berkata, “Wahai Anas, sesungguhnya aku dan kedua cucuku ini, dan ibunya, dan orang yang lagi tidur itu (Sayyidina Ali) besok di hari kiamat berada di satu tempat. “Kami berada di tempat yang sama di hari kiamat”. “Kami berada di satu tempat yang sama di hari kiamat”. Diantara ummat ada yang dekat dengan tempat itu dan ada yang jauh.
Habib umar bertanya kepada jamaah,
“Kira-kira kita dimana saat itu?”
“Saat itu kita dimana wahai hadirin?”
“Kita dimana saat itu???’’

Habib mengakhiri  tausiyahnya dengan mengajak jamaah berdoa kepada Allah SWT. Hadirin menirukan ucapan beliau: “Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah”. “ Ya Rohman...Ya Rohiim”. Beberapa kali: “Ya Allahu ya Allah...”. Banyak diantara jamaah yang meneteskan air mata,  menangis memohon ampun kepada Allah atas segala dosa. Habib mendoakan semoga kita bisa berkumpul kembali dalam majelis yang mulia seperti ini, dan kelak di hari kiamat bisa bersama-sama kembali dengan orang yang dicintainya selama di dunia. Amin ya Allah ya Robb.

Majelis ditutup dengan do’a oleh Habib Abu Bakar Al Atthos. Seperti biasa para jamaah berebut salaman ingin mencium tangan guru mulia. Duuh... teman-teman, guru kita capek, letih. Jangan menambah letih beliau dengan menarik-narik tangan beliau, meski beliau ikhlas.
Bil golb ya habib.

Ma’assalamah, semoga kita bisa berjumpa kembali.

Kiriman dari Ahmad Nur Hamim

Baca Selengkapnya...

Apa dan Siapa Habib Umar bin Hafidz?

Oleh: Sayyid Abdul Qadir Umar Mauladdawilah Nasab beliau adalah: Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abibakar bin Idrus bin Husein bin Syeikh Abibakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbat bin Ali Khali‘ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidallah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidi bin Jakfar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sorot matanya tajam, raut mukanya tampak bercahaya, bibirnya tersenyum mengembang, jenggot merahnya hampir menutupi leher. Itulah ciri fisik Habib Umar bin Hafidz yang khas. Suaranya yang lantang, badannya yang tegak dengan dibalut jubah dan sorbannya yang dikenakan semakin menambah kewibaannya. Pribadinya santun dan rendah hati. Beliau memiliki akhlak yang terpuji dan memberikan contoh yang diajarkan Rasulullah dengan perilaku yang nyata pada dirinya. Beliau adalah berkah bagi kaum muslimin saat ini. Nasab beliau adalah: Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abibakar bin Idrus bin Husein bin Syeikh Abibakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi bin Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbat bin Ali Khali‘ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidallah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidi bin Jakfar Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Habib Umar lahir di Kota Tarim, sebuah kota yang terkenal dengan sebutan “Kota Seribu Wali”. Sebutan itu tidaklah mengada-ada bagi kota tertua di Negeri Hadramaut wilayah Yaman Selatan ini. Dari sinilah banyak bermunculan para auliya’, orang-orang shaleh, ulama yang ikhlas dan mengamalkan ilmunya ke seantero penjuru bumi. Mereka terdiri dari golongan kaum yang dekat dengan Allah. Salah satunya adalah Habib Umar bin Hafidz yang lahir di Tarim pada hari Senin, 4 Muharram 1388 H bertepatan dengan 27 Mei 1963 M, sebelum fajar. Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan cahaya keilmuan yang diwarisi dari para keturunan suci dan mulia. Di kota inilah beliau tumbuh dalam didikan keluarga yang penuh dengan keimanan, ketakwaan, ilmu dan akhlak yang luhur. Sedari kecil beliau ditanamkan nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tumbuh dalam lingkungan Ahlussunnah wal jama’ah, yang bermadzhabkan Syafi’i dengan Thariqah Bani Alawi, sebagaimana para leluhurnya yang mulia. Guru pertama beliau tak lain adalah ayahnya sendiri Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, seorang Mufti Kota Tarim yang juga merupakan pejuang. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidupnya demi tersebarnya syiar Islam, berani mengatakan kebenaran dan mengajarkan hukum-hukum suci nan mulia dalam Islam. Pada saat itu negeri Yaman Selatan dikuasai oleh Uni Soviet yang berfaham komunis dan anti agama. Musuh utama mereka adalah para ulama Islam yang merupakan penghalang besar bagi penyebaran ideologi mereka. Melihat sepak terjang Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz (ayah Habib Umar), Komunis menganggap beliau merupakan batu sandungan mereka. Maka pada suatu waktu dalam masjid, ketika Habib Umar sedang menemani ayahnya untuk menunaikan Shalat Jumat, Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz diculik oleh gerombolan komunis, kain Habib Umar kecil pun kemudian pulang ke rumahnya sendirian dengan membawa rida’ milik ayahnya. Sejak saat itu Habib Umar tak pernah lagi melihat sang ayah hingga saat ini. Semenjak kecil, Habib Umar tumbuh menjadi seorang Yatim. Namun keyatiman beliau tidak menghalangi sedikitpun langkahnya untuk menuntut ilmu. Memang jika kita pelajari jejak langkah para ulama dan habaib terdahulu, khususnya yang berada di Kota Tarim, mereka tidak khawatir akan masa depan pendidikan anak-anaknya, bilamana mereka meninggal dan anak-anaknya masih kecil.. Hal itu tidak lain karena mereka telah melakukan kaderisasi serta mujahadah dan doa yang tulus, agar kelak para keturunannya dapat istiqamah mengikuti ajaran dan tuntutan para pendahulunya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Semua itu juga didukung oleh lingkungan yang kondusif di Kota Tarim yang aman dari segala bentuk kemaksiatan. Jadi tidaklah mengherankan, jika kemudian Habib Umar kecil yang yatim kemudian tumbuh menjadi sosok pemuda yang gemar mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Bakat dan kecerdasan beliau yang merupakan hasil didikan ruhani dan jasmani dari ayahanda dan para gurunya telah menjadikannya mampu menghafal Al-Qur’an pada usia yang sangat muda dan juga menghafal berbagai teks matan ilmu fiqih, hadis, bahasa Arab dan berbagai ilmu keislaman lainnya. Guru-guru beliau yang berada di Kota Tarim : 1. Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz.(Ayah, sekaligus guru utama beliau) 2. Al-‘Allamah Al-Habib Muhammad bin Alwi bin Syihabuddin. 3. Munshib Al-Habib Ahmad bin Ali bin Syeikh Abibakar. 4. Al-Habib Abdullah bin Syeikh Al-Aydrus. 5. Al-Habib Abdullah bin Hasan Bilfaqih. 6. Al-Habib Umar bin Alwi Al-Kaaf. 7. Asy-Syeikh Taufiq Aman. 8. Al-Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz. (Kakak kandung yang sekaligus berperan sebagai pengganti ayah bagi Habib Umar semenjak sang ayahandanya syahid). Semenjak membawa rida’ sang ayah, Habib Umar kecil menjadikan hal itu sebagai suatu pertanda bahwa ia harus meneruskan tanggung jawab sang ayah untuk menyebarkan Islam. Sejak itu ia semakin bersemangat dan berjuang keras agar dapat melanjutkan cita-cita sang ayah untuk mensyiarkan Agama Allah.. Meskipun berusia masih muda, kala itu Habib Umar telah benar-benar memahami Al-Qur’an, karena Allah telah memberikannya sesuatu yang khusus. Kealiman Habib Umar ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi keluarga dan kerabat. Mereka mengkhawatirkan akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke Kota Baidha’ yang terletak di Yaman Utara. Sehingga beliau terhindar dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Sayyid Muda itu tiba di Kota Baidha’ pada awal bulan Saffar tahun 1402 H bertepatan dengan bulan September tahun 1981 M. Di sana beliau berguru kepada Al-Imam Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar, yang kemudian menjadi mertua beliau. Selain kepada Al-Habib Muhammad Al-Haddar beliau juga belajar dan menerima ijazah dari Al-Habib Zein bin Ibrahin bin Smith (Yang kini berada di Madinah).. Di Kota Baidha’, selain belajar beliau juga berdakwah hingga ke pelosok yang umumnya masih dihuni oleh kaum Badui yang masih primitif. Dengan kesabaran, keikhlasannya serta keuletannya, beliau tak kenal lelah dalam berdakwah mensyiarkan Agama Allah. Hampir tak ada satu tempat pun yang terlewatkan dalam dakwah beliau untuk mengenalkan kembali cinta Allah dan Rasul-Nya (mahhabatullah wa rasulihi) shallallahu ‘alaihi was sallam pada hati kaum muslimin. Beliau banyak merintis beberapa majelis taklim didaerah Hadramaut. Beliau jarang sekali tidur, usahanya sangat gigih untuk mengembalikan umat Islam agar mereka berjalan di garis para salafunasshalihin yang tiada lain adalah cerminan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kerja kerasnya tak sia-sia, banyak para pemuda yang tertarik dengan metode pengajaran beliau, di bawah bimbingan Habib Umar mereka seakan terbangun dari tidur yang panjang dan kelam. Mereka kemudian menjadi sosok pemuda yang bangga dengan identitas keislamannya, dan memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Perjuangan Habib Umar yang ikhlas dan keteguhannya dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Negeri Yaman Utara, telah mendapat dukungan dan simpatik dari para ulama yang berada di sana. Merekapun membantu dalam perjuangan dakwahnya. Beliaupun mengunjungi para ulama yang berada di Yaman, salah satunya di Kota Ta’iz. Disana beliau belajar dan mengambil ijazah kepada Mufti Ta‘iz, Al-Musnid Al-Habib Ibrahim bin Agil bin Yahya yang begitu perhatian dan cinta kepada Habib Umar. Setelah beberapa bulan di kota Baidha’ beliau kemudian melakukan perjalanan ibadah Haji di Tanah Suci serta mengunjungi makam datuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Di Hijaz beliau berkesempatan untuk menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari para ulama besar disana. Pada bulan Rajab tahun 1302 H bertepatan bulan April 1982 M beliau bertemu Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assagaf yang berada di Kota Jeddah. Al-Habib Abdul Qadir menyaksikan bahwa di dalam diri Habib Umar muda terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun juga berkesempatan menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yaitu Al-Habib Al-Jawwad Ahmad Masyhur bin Toha Al-Haddad (Jeddah) dan Al-Habib Abubakar Attas bin Abdullah Al-Habsyi (Makkah). Beliau juga menimba ilmu dari Asy-Syeikh Al-Musnid Muhammad Isa Al-Fadani dan Al-‘Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani yang berada di KotaMakkah. Semenjak itu nama Habib Umar bin Hafidz mulai tersohor, karena kegigihan dan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaiki serta mempopulerkan ajaran-ajaran para Salafuna Alawiyin. Kesohoran dan ketenaran Habib Umar tidak mengurangi sedikit pun niat dasar beliau. Setelah dari Hijaz, Negara Oman menjadi fase dakwah beliau kemudian. Beliau mendapatkan undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan kuat untuk belajar tentang Thariqah Alawiyah. Beliaupun menyambut baik undangan tersebut dan kemudian mengajar dan berdakwah di sana hingga beberapa tahun. Sekembalinya dari Oman, sebelum ke Tarim, beliau singgah ke Kota Syihir, Yaman Timur. Beliau belajar kepada para ulama yang berada di kota tersebut sambil berdakwah.. Setelah itu beliaupun kembali ke kampung halamannya di Kota Tarim. Bertahun-tahun kota itu beliau tinggalkan dan waktu dihabiskan untuk belajar, berdakwah guna membentuk ruh Islami orang-orang di sekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah (ber-amar ma’ruf nahi munkar). Pada tahun 1414 H, bertepatan dengan tahun 1993 M, beliaupun mengabadikan ajaran-ajarannya dengan membangun Pondok Pesantren Darul Mustafa. Beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Mustafa tersebut dengan tiga tujuan: Pertama, mengajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman secara ber-talaqqi (bertatap muka) dan para pengajarnya adalah para ahli yang memiliki sanad keilmuan yang dapat dipertanggung jawabkan. Kedua, menyucikan diri dan memperbaiki akhlak. Ketiga, menyebarkan ilmu yang bermanfaat serta berdakwah menyeru kepada jalan yang diridhai Allah subhanallahu ta’ala dan sesuai dengan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah dan para salafuna shalihin.. Darul Mustafa merupakan hadiah terbesar beliau bagi dunia. Dari pesantren inilah ajaran para salafuna shalihin diserukan, hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam waktu yang demikian singkat, penduduk Tarim telah menyaksikan berkumpulnya para murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan karena pernah dikuasai oleh kaum atheis komunis. Para muridnya banyak berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Sudan, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat, Kanada, Yaman, Oman, Emirat, Saudi Arabia, syuria dan juga dari negara-negara Arab lainnya. Habib Umar adalah seorang orator ulung, da’i yang ikhlas, setiap khutbah dan tausiah yang beliau sampaikan membuat dejak kagum bagi orang yang menyimaknya. Tidak berlebihan kalau beliau dijuluki “Singa Podium”. Bagaimana tidak, setiap orang yang mendengarkan ceramahnya, sekeras apapun hatinya pasti akan menitikkan air mata, walupun orang yang menyimaknya tidak mengerti bahasa arab. Selain da’i Habib Umar juga merupakan seorang yang mumpuni dalam ilmu hadis. beliau banyak hafal hadis berikut matan dan sanadnya dari dirinya hingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam. Selain itu beliau juga ahli dalam ilmu tafsir Al-Qur’an. Malam harinya beliau pergunakan, beribadah dan bertafakur kehadirat Allah. Sedangkan siang harinya beliau pergunakan untuk khidmah kepada umat. Pernah dikasahkan pada suatu hari seorang tamu bersikeras ingin duduk bersama beliau hingga tengah malam, lalu Habib Umar izin kepada tamu tersebut untuk shalat malam, dan tamu tersebut berkata: “Baiklah Habib tapi saya tetap akan menunggu anda”, maka Habib Umar pun mengangguk, lalu beliau tidak keluar dari tempat shalatnya hingga kemudian dikumandangkannya adzan subuh, maka Tamu itupun berkata: “Habibana, antum meninggalkan saya hingga subuh?”, beliau berkata: “Maafkan saya, aku bertamu kepada yang maha tunggal dan jika aku bertamu kepada-Nya, aku merasakan kelezatan dan aku lupa pada semua selain-Nya”. Habib Umar tinggal di Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan. Selain aktif berdakwah di berbagai belahan dunia, beliau juga mengawasi perkembangan Pondok Pesantren Darul Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun di bawah manajemen beliau. Darul Mustafa kini telah memiliki lebih dari 30 cabang yang tersebar di berbagai tempat di Hadramaut, Yaman Utara, Emirat, Hijaz, Indonesia, Malaysia. Para murid yang telah belajar di Darul Mustafa kemudian berdakwah di daerah asalnya masing-masing. Mereka menyampaikan apa-apa yang telah mereka peroleh dari ilmu yang telah di ajarkan oleh Habib Umar untuk menyebarkan kebaikan serta rahmat bagi makhluk Allah. Selain melakukan kaderisasi, Habib Umar juga merupakan ulama yang produktif dalam menulis. Beberapa kitab karangannya antara lain: Is’af At-Thalibi, Ridho Al-Kholaq bi bayan Makarimal Akhlaq, Taujihat At-Thullab, Syarah Mandzumah -Sanad Al-‘Ulwi, Adz-Dzakirah Al-Musyarrafah..Dan karya beliau yang paling monumental adalah Dhiyaullami’ bidzikri Mauliduhu Asy-syafi’, yang berisi bait-bait syair pujian terhadap Rasulullah, di Indonesia lebih dikenal dengan Maulid Dhiyaullami’ atau Maulid Habib Umar. Hingga saat ini beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran dakwah Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya. Tidak ketinggalan pula di Indonesia. Tahun 1994 M adalah awal kedatangan beliau ke Indonesia. Sebelumnya Al-Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, Solo mengeluh kepada Al-Imam Al-‘Arif billah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah tentang keadaan para Alawiyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya. Lalu Al-Habib Abdul Qadir pun mengutus Habib Umar bin Hafidz untuk mengingatkan dan menggugah ghirah para Alawiyin di Indonesia. Kini, setiap awal Bulan Muharram beliau sempatkan datang ke Indonesia guna memberikan nasehat, ilmu serta mengingatkan kita akan Thariqah Alawiyin. Semoga Allah menjaga kesehatan beliau, memanjangkan usia beliau, memudahkan segala urusan beliau, menjadikan keturunnanya dan para anak muridnya sebagai penerus dakwah beliau dan menggolongkan kita semua termasuk sebagai orang-orang yang suka berkumpul bersama kaum shalihin seperti beliau. Amin….. (Dikutip dari buku “Habib Umar bin Hafidz Singa Podium”)

Baca Selengkapnya...

Siapakah Keturunan Rasulullah (Para Habaib)..???

Banyak diantara kita sudah mengira bahwa Dzurriyatur Rasul (keturunan dari pada nabi Muhammad SAW) itu sudah tidak ada. Bahkan dengan mengatasnamakan perkembangan teknologi, banyak diantara kaum muslimin dan muslimat yang tertipu dengan tipu daya yang tidak beralasan. Terlebih lagi, semakin maraknya faham-faham yang tidak mempercayai dzurriyatur rasul itu ada, membuat deretan pemahaman tentang ahlul bait semakin rendah. Hanya dengan mengandalakan ‘bukti yang otentik’, banyak dari kalangan umat islam meragukan atas keturaunan Rasulullan SAW.
Apakah seperti ini wajah umat islam yang sekarang? Wajah yang tidak mencintai Rasul-nya, dan dengan rela membiarkan manusia yang agung terputus sanad-nya. Apakah mungkin Allah SWT membiarkan keturunan sang ‘kekasih-nya’ terputus begitu saja ? Muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah SWT, marilah kita kaji sejenak pembahasan sejarah dibawah ini. Sesungguhnya Sayyidina Siti Fatimah r.a mempunya tiga orang putra, Al Hasan r.a, Al Husain r.a serta Muhsin r.a. Dan dua orang putri Ummu Kulsum r.a dan Zainab r.a. Adapun Sayyidina Hasan r.a dan husain r.a dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait, yang meneruskan keturunan Rasulullah SAW. Salah satu keistimewaan atau Fadhal Ikhtisos yang didapat oleh Sayyidah Siti Fatimah r.a adalah bahwa keturunannya atau Dzurriayturnya disebut sebagai Dzurriyah Rasulullah SAW. Sebagaimana sesuai dengan keterangan Rasulullah SAW, bahwa anak-anak Fatimah r.a itu bernasab kepada Rasulullah SAW. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya. Rasulullah SAW bersabda ; Artinya :
“Semua bani Untsa (Manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fatimah, maka kepada akulah(Rasulullah SAW) bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (H.R. Tobroni).
Imam Suyuti dalam kitab “Aljamik As Shohir” Juz 2 halaman 92. Menerangkan, bahwa Rasulullah pernah bersabda : Artinya : “Semua Bani Adam (Manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah kecuali anak-anak Fatimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (Ikatan keturunan mereka).” (H.R. At-Tobroni dan Abu Ya’la).
Dalam tafsir Al-Manar Syekh Muhammad Abduh mengutip sabda Rasulullah SAW : Artinya : “Semua anak adam (Manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya kecuali anak-anak Fatimah, maka akulah(Rasulullah SAW) ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”.
Itulah sebabnya, keturunan Sayyidah Siti Fatimah r.a (dalam hal ini para habib) disebut Dzurriyyaturtosul atau keturunan Nabi Muhammad SAW. Dibawah ini nukilan Fatwa dari seorang ulama besar dan mufti resmi kerajaan Saudi Arabia yang bermazhab WAHABI, yaitu AL-Alamah Syeikh Abdul Aziz bin Abdul Bin Baz yang dimuat dalam majalah “AL-MAIDAH” hal 9 no 5692 tanggal 24 oktober 1982. Seorang dari Irak menanyakan kepada beliau mengenai kebenaran golongan yang mengaku sebagai Sayyid atau sebagai anak cucu keturunan Rasulullah SAW. Jawab Syeikh Abdul Aziz Bin Baz : “Orang-orang seperti merka itu terdapat diberbagai tempat dan Negara. Mereka juga dikenal dengan gelar “Syarif”.
Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, bahwa mereka itu berasal dari Ahlul Bati Rasulullah SAW. Diantara mereka ada yang sisilahnya berasal dari Sayyidina Al-Hasan r.a dan ada yang berasal dari Sayyidina Al-Husain r.a. ada yang dikenal dengan gelar Syarif dan juga dengan gelar Sayyid. Hal itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di negeri yaman dan negeri-negeri lainnya. Adapun mengenai menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereaka apa yang telah menjadi hak mereka, maka semua itu adalah merupakan perbuatan yang baik. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW berulang-ulang mewanti-wanti
“Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahlulbaitku,… Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahlulbaitku,… Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahlulbaitku,…”
Demikain sebagian dari Fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz mengenai masih adanya keturunan Rasulullah SAW. Begitupun dengan Al-Allamah Dr. Muhamad Abdul Yamani, seorang ahli sejarah Ahlul Bait. Beliau adalah mantan menteri penerangan kerajaan Saudi Arabai. Dalam bukunya yang berjudul “Allimu Awladakum Mahabbatan Ahlu Baitinnabi” halaman 30 cetakan ke-2, ketika beliau membahsa Sayyid dan Syarif, beliau menulis : Sayyid dan syarif adalah keturunan Sayyidah Fatimah r.a dan Sayidina Ali Karomawlloohi wajhah. Tidak ada beda antara kedua gelar dari segi nasab dan kemuliaan hebungaun dengan sayyidina Muhammad SAW. Mereka semua berasal dari keturunan Rasulullah SAW dan dapat dihargai, dihormati dan dicintai serta dimuliakan. Demikian sedikit keterangan Dr. Muhammad Abdul Yamani mengenai keberadaan Siti Fatimah binti Rasulullah SAW yang tersebar diberbagai Negara. Khususnya di Indonesia banyak yang menyebutnya dengan sebutan HABIB.
Delapan dari sembilan wali Songo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa adalah keturunan Rasulullah SAW. Karena jasa merekalah 90% dari rakyat Indonesia sekarang ( ±200 Juta) beragama Islam. Keberadaan mereka diIndonesia bagaikan penyelamat bangsa. Hal ini sesuai dengan keterangan Rasulullah SAW, dimana beliau pernah bersabda : Artinya : “Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baiti ku diantara kaliah adalah seperti kapal Nuh diantara kaumnya. Barang siapa menaikinya ia pun selamat dan siapa pun tertinggal olehnya ia pun tenggelam” (H.R. Muslim)
Jelas sudah bahwa para Habib adalah keturunan dari Rasulullah SAW berdasarkan keterangan diatas. Semoga bagi mereka yang masih belum bias mengakui bahwa Sayyid, Syarif dan juga para Habaib adalah Dzurriyatur Rasul(Keturunan Nabi Muhammad SAW) Allah berikan Taufiq serta Hidayah kepada mereka semua agar mereka selamat serta mendapatkan keberkahan dalam hidup nya. Amin…..

Baca Selengkapnya...